Dalam hadits Abu Hurairah yang dibawakan di awal kajian [4:04], setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan Allah, amal paling utama berikutnya adalah haji yang mabrur (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai). Ustadz mengupasnya panjang, sebab haji adalah ibadah mahal yang sayang bila dijalankan asal-asalan.
Haji mabrur artinya haji yang diterima, yakni yang memenuhi syarat dan tata caranya [15:21]. Itu menuntut keikhlasan, harta yang halal, dan mengikuti tuntunan secara penuh. Karena itu beliau berpesan agar calon jamaah memperhatikan dengan saksama travel yang membawanya: bukan sekadar fasilitasnya, melainkan apakah programnya benar-benar dipandu sesuai syariat. Banyak jamaah yang setelah ikut bimbingan yang benar berkomentar bahwa ternyata manasik itu mudah, sementara sebelumnya mereka dipandu dengan tata cara aneh yang tidak ada syariatnya [15:52].
Contoh konkretnya adalah durasi pelaksanaan. Rangkaian haji membentang enam hari, dari tanggal 8 sampai 13 Zulhijah, tetapi banyak travel memangkasnya menjadi empat hari saja, tanggal 9 sampai 12, dengan alasan tanggal 8 (hari tarwiyah) dan tanggal 13 (hari tasyrik terakhir) hukumnya sunnah [16:22]. Ustadz menyayangkan logika memangkas yang sunnah ini. Tanggal 8 adalah hari tarwiyah, hari ketika Nabi Ibrahim alaihissalam merenungkan mimpinya menyembelih Ismail sebelum memastikannya sebagai wahyu pada hari Arafah tanggal 9 [16:53]. Secara fikih, sunnah berarti dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa, tetapi beliau mempertanyakan mengapa umat selalu mengambil potongan definisi yang kedua. Padahal sunnah pun perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan di hari kiamat seluruh amal dihitung akumulatif, bukan per kejadian tunggal [18:27]. Masuk ke Mina sejak tanggal 8 dalam keadaan ihram berarti berpahala sehari lebih cepat dibanding yang hanya mengambil rukun wajibnya [19:29].
Hal serupa berlaku pada tanggal 12, ketika banyak jamaah berlomba meninggalkan Mina dengan nafar awal. Padahal Allah menyebut hari ke-13 dengan sifat liman ittaqa, bagi siapa yang lebih bertakwa [20:01]. Ustadz mengajak jamaah berpikir: masa kita tidak ingin mendapat predikat lebih bertakwa, padahal ujung-ujungnya pun kembali ke hotel saja.
Menjaga kemabruran juga berarti menjaga anggota tubuh dari yang haram selama berhaji. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa siapa yang berhaji tanpa rafats, ucapan syahwat, bahkan kepada pasangan halal selama ihram, dan tanpa fusuk, segala bentuk dosa dan kriminalitas, maka ia pulang seperti baru dilahirkan ibunya [20:32]. Itulah hakikat haji mabrur. Maka gibah, pandangan haram, dan tontonan yang melalaikan harus ditinggalkan. Ustadz mencontohkan jamaah yang di kamar hotel Makkah memutar siaran Masjidil Haram atau mendengarkan tilawah, bukan sinetron [21:34].
Puncak haji adalah hari Arafah, tanggal 9 Zulhijah dari zuhur sampai magrib. Ustadz menegaskan hari itu adalah waktu berdoa, dan doa yang paling afdal adalah doa pada hari Arafah [22:35]. Ketika ditanya mana yang lebih baik di Arafah, membaca Al-Quran atau berdoa, jawaban beliau adalah berdoa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri selepas asar mengangkat tangannya ke langit dan tidak menurunkannya sampai adzan magrib. Karena itu beliau mengingatkan agar jamaah tidak menjadikan Arafah sekadar antre makanan, antre kamar mandi, lalu kekenyangan dan tertidur. Fasilitas boleh dinikmati, tetapi jangan menjadi program utama pada hari yang hanya datang setahun sekali itu [23:07].
Ustadz juga menyinggung sisi lain dari kajian yang sama: jihadnya wanita dan orang tua adalah haji [14:50]. Maka pembahasan ini dobel pentingnya bagi ibu-ibu dan orang sepuh yang mengikuti kajian.
Kesimpulannya bertahap. Pertama, niatkan haji secara penuh enam hari bila programnya tersedia, jangan pangkas yang sunnah. Kedua, jaga seluruh anggota tubuh dari rafats dan fusuk sejak ihram sampai selesai, dan maksimalkan hari Arafah untuk berdoa. Ketiga, pilih bimbingan yang sesuai syariat sejak sebelum berangkat, karena kemabruran dibangun dari persiapan, bukan dari penyesalan di tanah suci.
◉ 2 dilihat ·
