Kedermawanan Tertinggi: Memberi Sebelum Diminta

Di ujung hadits Ibnu Abbas yang dibawakan dalam kajian [32:18], setelah menyebutkan manusia terbaik (yang berangkat berperang hingga mati atau terbunuh) dan urutan berikutnya (yang menyendiri di perbukitan, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menjauhi kejahatan manusia), Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut manusia yang paling buruk: orang yang diminta dengan nama Allah namun tidak mau memberi, padahal ia mampu (HR. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Hibban). Ustadz mengupas ujung hadits ini menjadi pelajaran tersendiri tentang kedermawanan [40:40].

Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri memberi teladan tertinggi. Tradisi beliau yang menarik, sebagaimana diuraikan dalam kajian [41:10], adalah tidak pernah menolak siapa pun yang meminta, bahkan tanpa dimintai atas nama Allah sekalipun. Itulah ciri kedermawanan level tertinggi. Di antara level tertingginya lagi adalah memberi sebelum diminta: sudah mengirim makanan atau hadiah kepada orang tua, kerabat, dan tamu tanpa mereka meminta. Ada orang yang setiap kedatangan tamu selalu membungkuskan makanan. Sifat seperti itu, kata ustadz, ditempa lewat proses panjang, sebab tidak semua orang memilikinya secara instan [41:40].

Level tertinggi berikutnya adalah memberikan apa yang ia sukai dan mendahulukan orang lain. Ustadz mencontohkan kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma di masa tuanya [43:13]. Beliau sangat ingin makan ikan, padahal Madinah jauh dari laut, maka istrinya memasak seekor ikan dengan sangat baik. Tepat saat hidangan tersaji, seorang miskin mengetuk pintu. Abdullah bin Umar menyuruh istrinya membungkus ikan itu dan memberikannya kepada si miskin. Ketika istrinya menyarankan memberi makanan lain saja, beliau menjawab bahwa bila menyukai sesuatu maka ia akan menginfakkannya di jalan Allah. Pelajaran yang ditarik ustadz: pekalah melihat penawaran Allah yang datang dalam bentuk ujian [43:44]. Ikan di meja itu bukan kebetulan, melainkan pesan.

Kunci cara pandangnya adalah melihat dengan kacamata iman, bukan kacamata dunia [42:11]. Dengan kacamata iman, kita tidak menyalahkan orang yang meminta dan tidak sibuk menilai siapa penerimanya, melainkan fokus pada esensi sedekahnya. Kadang ujian datang tepat saat kita paling butuh: kita sedang lapar, lalu ada orang meminta makanan yang ada di tangan kita. Di titik itulah kadar kedermawanan diukur, dan pahalanya pun lebih besar.

Ustadz mengaitkan ini dengan harta secara umum [44:14]. Harta dan pemiliknya sama-sama milik Allah subhanahu wa taala, maka menolak memberi saat mampu adalah keburukan yang nyata, sebagaimana penutup hadits di atas. Surga, kata beliau, adalah tempat orang-orang dermawan, dan kedermawanan itu bertingkat-tingkat.

Konteks haditsnya sendiri patut diperhatikan. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menyampaikan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar menjumpai para sahabat yang sedang duduk di majelis mereka, lalu menawarkan kabar tentang manusia terbaik, terbaik berikutnya, dan terburuk [31:47]. Ustadz mengambil faedah sampingan darinya: bolehnya muslim berkumpul dan mengobrolkan urusan dunia selama tanpa maksiat, dan pentingnya mengisi majelis dengan hal bermanfaat sebagaimana Nabi mendatangi majelis itu dengan membawa faedah [34:22]. Metode bertanya untuk menarik perhatian audiens pun bisa ditiru para orang tua dan pengajar [37:32]. Namun inti pelajarannya tetap pada dermawan: manusia terbaik keluar berperang tanpa menunda dan berharap mati atau syahid di sana [38:34], dan manusia terburuk menolak memberi saat diminta atas nama Allah.

Bagian ini berhubungan langsung dengan pembahasan jihad harta dalam kajian yang sama. Jihad yang paling sempurna menggabungkan jiwa dan harta [27:44], dan bagi yang tidak mampu dengan jiwa, hartanya adalah jalan jihadnya. Maka melatih kedermawanan sehari-hari sesungguhnya melatih kesiapan berjihad dengan harta.

Kesimpulannya bertahap. Pertama, latih diri tidak menolak peminta saat mampu, meneladani tradisi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kedua, naikkan levelnya menjadi memberi sebelum diminta dan memberikan apa yang disukai, seperti teladan Abdullah bin Umar. Ketiga, bacalah setiap permintaan yang datang sebagai penawaran pahala dari Allah, bukan gangguan, dan sambut dengan kacamata iman.

Tonton kajian aslinya: “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib #1295 Anjuran Berjihad di Jalan Allah | Khalid Basalamah”, kanal resmi Khalid Basalamah Official (@khalidbasalamah).

◉ 2 dilihat  · 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top