Mendampingi Orang Tua Menjemput Hidayah

Sebuah pertanyaan yang kerap menggelayuti hati penuntut ilmu diangkat dalam kajian ini: bagaimana sikap seorang anak apabila mendapati orang tuanya belum shalat, masih percaya klenik, dan tinggal jauh di pelosok kampung dalam lingkungan yang tidak mendukung perubahan [41:10]? Menjawab kegelisahan tersebut, Ustadz tidak memberikan vonis kasar, melainkan mengarahkan pada teladan pendampingan yang penuh kesabaran dan kelembutan. Menasihati dari jauh setahun sekali tatkala mudik tentu tidak akan cukup untuk melunakkan hati seseorang. Hidayah Allah tidak dijemput dengan perdebatan sengit, melainkan dihantarkan melalui keteladanan akhlak, kedekatan fisik, dan ketulusan doa.

Kisah intinya bermula dari seorang murid bernama Abdullah bin Abi Musa at-Tustari yang menempuh perjalanan jauh dari daerah Tustar di Persia menuju Beirut, Libanon, demi menimba ilmu hadits kepada ulama besar tabiut tabiin, Imam Al-Auza’i [42:10]. Sang guru yang bijak memperhatikan pemuda asing ini dan mendapati kenyataan bahwa ayahnya di Irak masih beragama Majusi. Nasihat yang meluncur dari lisan Imam Al-Auza’i sungguh mengejutkan: beliau menyuruhnya segera pulang ke rumah seraya berpesan, pulanglah dan dampingi ayahmu, siapa tahu Allah menganugerahkan hidayah Islam kepadanya melalui perantaraan baktimu [43:12]. Datang jauh untuk menuntut ilmu mulia justru diminta pulang, sebab mendampingi orang tua menjemput keselamatan akhirat adalah amalan fardhu yang lebih afdal daripada majelis ilmu sunnah [43:43].

Rujukan Kajian Ini
  • Sirah Nabawiyah Lengkap Ar-Rahiq Al-Makhtum (+ Audio QR)
    Sirah Nabawiyah Lengkap Ar-Rahiq Al-Makhtum (+ Audio QR)
    Rp30.000
    Lihat di Shopee
  • Mushaf Al-Qur'an Hafalan Tikrar Syaamil (A5 Terjemah Tajwid)
    Mushaf Al-Qur’an Hafalan Tikrar Syaamil (A5 Terjemah Tajwid)
    Rp119.000
    Lihat di Shopee
  • Sajadah Kubah Busa Tebal Turki Anti-Slip Premium Jumbo
    Sajadah Kubah Busa Tebal Turki Anti-Slip Premium Jumbo
    Rp87.500
    Lihat di Shopee

Tautan afiliasi: kami dapat memperoleh komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda.

Ringkasan dalam 7 Slide

Carousel Mendampingi Orang Tua slide 1: Orang tua belum shalat, masih percaya klenik, dan tinggal jauh di kampung. Jawabannya bukan vonis, melainkan teladan dan kelembutan Carousel Mendampingi Orang Tua slide 2: Nasihat Imam Al-Auza'i kepada Abdullah at-Tustari untuk pulang mendampingi ayahnya di Irak yang masih Majusi hingga meraih hidayah Carousel Mendampingi Orang Tua slide 3: Surat Luqman ayat 15 melarang taat dalam kesyirikan namun tetap memerintahkan menemani kedua orang tua dengan cara yang ma'ruf Carousel Mendampingi Orang Tua slide 4: Kisah Abu Hurairah memohon doa Nabi untuk ibunya yang memusuhi dakwah hingga sang ibu bersyahadat di hari yang sama Carousel Mendampingi Orang Tua slide 5: Waktu yang dipakai berbakti justru diluaskan oleh Allah: rezeki dilapangkan, umur dipanjangkan, dan urusan dimudahkan Carousel Mendampingi Orang Tua slide 6: Teks terjemahan firman Allah Surah Luqman ayat 15 mengenai perintah mempergauli orang tua di dunia dengan cara yang baik Carousel Mendampingi Orang Tua slide 7: Ajakan membaca kajian lengkap Mendampingi Orang Tua Menjemput Hidayah di bersunah.com
1/7

Geser untuk melihat 7 slide

Mendengar fatwa gurunya, pemuda tersebut patuh dan menempuh perjalanan darat berhari-hari untuk kembali ke negerinya. Setibanya di rumah, ia mendapati ayahnya sedang terbaring sakit. Tanpa menunda waktu, pemuda itu langsung merawat ayahnya dengan penuh ketulusan, membersihkan kotorannya, dan menyuapkan makanan dengan kemuliaan yang belum pernah disaksikan sang ayah sebelumnya. Sang ayah yang terharu bertanya, ajaran agama apa yang memerintahkan anak berbakti sedemikian rupa kepada orang tua yang berbeda keyakinan? Sang anak menjawab santun: Islam [44:44]. Menyaksikan akhlak yang mewujud nyata, sang ayah luluh dan menyatakan ingin masuk Islam. Ia bersyahadat di hadapan putranya, sebelum akhirnya wafat dalam keadaan husnul khatimah tidak lama kemudian [45:16].

Keteladanan tersebut bersandar kuat pada pedoman wahyu dalam Surah Luqman ayat 15 [44:13]. Allah menegaskan bahwa apabila kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Allah, janganlah engkau menaati keduanya dalam perkara syirik tersebut. Namun kelanjutan firman-Nya menegaskan: washahibhuma fid dunya marufa, temanilah dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik [44:44]. Syariat memerintahkan kita untuk tetap menemani, bukan meninggalkan. Kita diperintahkan mendampingi dengan penuh kesantunan, bukan memusuhi. Hubungan akidah memang tidak boleh dikorbankan, tetapi hubungan kemanusiaan dan bakti seorang anak kepada orang tua wajib terus dipelihara selama hayat masih dikandung badan.

Pola dakwah berbasis bakti ini juga tercermin pada kisah sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu bersama ibundanya [39:38]. Pada masa awal Islam, ibunda Abu Hurairah memusuhi dakwah Nabi dan kerap melontarkan kata-kata kasar tentang Rasulullah. Abu Hurairah tidak membalas cacian ibunya, melainkan bergegas menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seraya menangis, memohon agar beliau berkenan mendoakan ibunya. Rasulullah berdoa agar Allah memberi petunjuk kepada ibunda Abu Hurairah. Berkah doa tulus itu langsung dijawab Allah pada hari yang sama: ketika Abu Hurairah pulang, sang ibu telah mandi bersuci dan menyambutnya dengan ikrar syahadat [40:40]. Bakti yang nyata dan doa yang tulus harus selalu mendahului lisan yang berceramah.

Ustadz kemudian memberikan teladan nyata dari masa kini [45:48]. Dalam penerbangan Surabaya ke Jember, seorang bapak sepuh menghampiri Ustadz dan bertutur kisah. Sejak mendengar kajian tentang keutamaan berbakti, bapak tersebut rela pulang dari Jakarta ke Jember setiap dua pekan sekali, berangkat Sabtu dan kembali Ahad, demi menjumpai ibundanya yang berusia tujuh puluh tahun dan enggan diajak pindah ke Jakarta [46:21]. Sebelum tersentuh ilmu, ia hanya pulang kampung setahun sekali. Pengorbanan rutin inilah wujud nyata mendampingi orang tua. Terhadap keluhan tidak punya waktu karena kesibukan kerja, Ustadz menjawabnya dengan logika keberkahan [46:51]. Waktu yang diinfakkan untuk orang tua tidak akan hilang; Allah akan meluaskan rezeki, memanjangkan usia, dan memberkahi waktu hingga urusan berhari-hari selesai dalam hitungan jam.

Kajian ditutup dengan seruan praktis yang menyentuh sanubari setiap anak [47:53]. Selagi orang tua masih ada, curahkanlah segala potensi bakti yang kita miliki: hubungi lewat telepon untuk menanyakan kabar, pesankan makanan kesukaan, kirimkan hadiah terbaik, dan sempatkan waktu untuk mendatangi serta mencium tangan mereka secara langsung. Jangan biarkan penyesalan datang saat raga mereka telah terbujur kaku di liang lahad dan pintu surga yang paling indah tersebut telah tertutup selamanya.

Kesimpulannya bertahap. Pertama, ubah pendekatan dakwah kepada orang tua: beralihlah dari sekadar menasihati dari jauh menjadi mendampingi dari dekat melalui akhlak dan bakti yang nyata. Kedua, perlakukan orang tua dengan cara yang maruf apa pun keyakinan mereka saat ini, lalu kuatkan ikhtiar dengan doa yang tidak pernah putus di sepertiga malam terakhir. Ketiga, rutinkan kunjungan serta perhatian secara konsisten tanpa menghitung-hitung waktu dan materi, karena keberkahan hidup serta hidayah Allah sering kali hadir lewat keistiqamahan bakti seorang anak.

Video ringkas: Mendampingi Orang Tua Menjemput Hidayah

Tonton kajian aslinya: "[KAJIAN TEMATIK] Sebelum Semuanya Terlambat – Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah, MA", kanal resmi Syafiq Riza Basalamah Official.

◉ 0 dilihat  · 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top