Bagaimanakah mutu pertanyaan seorang penuntut ilmu dapat menjadi cerminan dari kedewasaan pemahaman agamanya? Dalam rekaman kajian tematik Sebelum Semuanya Terlambat, Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah mengisahkan sebuah peristiwa menggugah tentang sahabat mulia Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu [27:20]. Suatu ketika sahabat Abdullah bin Masud memanjat pohon untuk memetik siwak, lalu angin bertiup kencang hingga menyingkap kedua betisnya yang sangat kecil dan kurus. Melihat pemandangan tersebut, sebagian sahabat yang hadir spontan tertawa terpingkal-pingkal karena memandang fisik sahabat tersebut dari sudut pandang lahiriah [27:20].
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seketika menegur para sahabat dan meluruskan cara pandang mereka terhadap nilai kemuliaan seorang hamba [27:50]. Beliau bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis Abdullah bin Masud itu jauh lebih berat di timbangan hari kiamat daripada bobot Gunung Uhud [28:20]. Sahabat yang berpostur kurus ini tidak menghabiskan umurnya meratapi kekurangan fisik, melainkan mencurahkan seluruh hidupnya untuk menuntut ilmu dan beramal. Beliau lantas mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sebuah pertanyaan berbobot tinggi: Ayyul amali afdhal, amalan apakah yang paling dicintai dan paling utama di sisi Allah? (HR. Al-Bukhari dan Muslim) [30:20].
Ringkasan dalam 7 Slide
Teguran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabat menjadi pelajaran abadi tentang kekeliruan menilai manusia dari penampilan zahir semata [28:20]. Manusia kerap terpukau oleh kemewahan duniawi, pakaian berharga mahal, atau jam tangan mewah seharga miliaran rupiah yang dibangga-banggakan di tengah pergaulan sosial [28:50]. Ustadz menyindir dengan lugas bahwa jam tangan miliaran maupun jam ratusan ribu memiliki fungsi yang sama untuk melihat waktu, namun manusia sering kali terjebak pada gengsi rupa dan harta. Padahal Allah subhanahu wa taala tidak pernah menilai manusia dari bentuk rupa dan harta kekayaannya, melainkan melihat kepada ketulusan hati dan kesalehan amal perbuatannya [29:50].
Pertanyaan Abdullah bin Masud menandai lonjakan kualitas penuntut ilmu yang telah naik kelas [30:20]. Beliau tidak sekadar bertanya tentang perkara halal dan haram atau sah dan batalnya suatu amalan, melainkan mencari puncak kemuliaan melalui ilmu al-mufadhalah bainal a’mal, yaitu fiqih membandingkan antara dua amalan kebajikan untuk memilih mana yang paling dicintai Allah [30:20]. Banyak orang bersemangat beribadah namun tidak memahami skala prioritas syariat, sehingga tanpa sadar mereka sibuk mengejar amalan sunnah seraya melalaikan kewajiban pokok yang jauh lebih agung di sisi Allah.
Ustadz memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari saat azan berkumandang [30:52]. Membaca Al-Quran adalah ibadah lisan yang sangat mulia dengan pahala sepuluh kebaikan per huruf kalamullah. Namun tatkala seruan muazin terdengar, seorang mukmin yang berilmu akan menghentikan bacaan Al-Quran demi menjawab lafaz azan. Mengapa demikian? Karena membaca Al-Quran dapat dilakukan kapan saja setelah azan usai, sedangkan kesempatan meraih pahala menjawab azan dan doa wasilah akan lenyap begitu lantunan azan berakhir [30:52].
Contoh berikutnya tampak pada adab menghadiri shalat Jumat di masjid [31:22]. Sebagian jemaah yang tiba saat muazin sedang mengumandangkan azan kedua memilih berdiri mendengarkan azan hingga selesai, baru kemudian melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Padahal para ulama menjelaskan bahwa menyegerakan shalat tahiyatul masjid lebih utama, agar saat khatib memulai khutbahnya, jemaah dapat duduk tenang dan menunaikan kewajiban mendengarkan khutbah Jumat secara khusyuk tanpa terpotong shalat sunnah [32:53]. Memahami urutan ibadah semacam ini mencegah seseorang dari kehilangan keutamaan yang lebih besar.
Penerapan ilmu skala prioritas juga berlaku dalam urusan sedekah harta [34:24]. Sebagian orang sangat bersemangat menyumbang dana besar untuk pembangunan masjid megah demi mengharapkan istana di surga, namun membiarkan keponakan kandungnya putus sekolah karena kesulitan biaya pendidikan. Ustadz mengingatkan bahwa membantu keponakan yang terdesak kebutuhan hidup jauh lebih wajib dan memiliki dua pahala sekaligus: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim kerabat [34:56]. Menuntut ilmu dengan adab bertanya yang benar akan menuntun seorang muslim untuk selalu menempatkan setiap amalan pada timbangan wahyu yang tepat.
Kesimpulannya bertahap. Pertama, luruskan niat menuntut ilmu agar tidak terjebak pada penilaian fisik dan kemewahan duniawi yang fana. Kedua, tingkatkan mutu pertanyaan dalam belajar; jangan hanya mencari status hukum sah atau batal, melainkan carilah amalan yang paling afdal di sisi Allah. Ketiga, pelajari fiqih skala prioritas amal agar mampu mendahulukan kewajiban pokok di atas amalan sunnah. Keempat, dahulukan sedekah kepada kerabat dan keluarga terdekat yang membutuhkan sebelum menyalurkan bantuan kepada pihak lain.
-
Lihat di ShopeeMushaf Al-Qur’an Hafalan Tikrar Syaamil (A5 Terjemah Tajwid)Rp119.000
-
Lihat di ShopeeQURAN MAPPING — Menyelami Kandungan & Karakteristik SurahRp130.100
-
Lihat di ShopeeBuku Hisnul Muslim: Doa & Dzikir Shahih Al-Qur’an dan SunnahRp15.990
Tautan afiliasi: kami dapat memperoleh komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda.
Tonton kajian aslinya: “[KAJIAN TEMATIK] Sebelum Semuanya Terlambat – Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah, MA”, kanal resmi Syafiq Riza Basalamah Official.
◉ 0 dilihat ·
