HATI-HATI DI DUNIA HANYA SEBENTAR

person on a bridge near a lake

Seringnya kita mendengarkan ceramah dari Ustadz yang mengingatkan bahwasannya kita hidup di atas muka bumi ini tidak lama. Nabi ﷺ bersabda, “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun dan hanya sedikit yang melewati umur tersebut”. Kebanyakan dari kita rata-rata di umur 60an sudah meninggal dunia bahkan ada yang kurang dari 60 tahun umurnya sudah dipanggil oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎. Lalu apakah kita masih terus terlena di atas muka bumi ini? Tahukah anda? Bahwasannya umur kita di dunia ini adalah penentu masa depan kita yang abadi di akhirat kelak. Maka jangan main-main dengan umur yang diberikan Allah kepada kita karena umur itu adalah nikmat yang akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam yang kita lewati sebagai penentu kesuksesan atau kehancuran kita di akhirat kelak. Sebenarnya waktu aktif kita yang efisien hanya sedikit misalkan saja kita semua meninggal pada umur 60 tahun maka dukurangi 15 tahun masa kita sebelum baligh, lalu kebanyakan dari kita tidur dalam 1 hari selama 8 jam berarti 1/3 umur maka 20 tahun, kemudian pada masa kini untuk media sosial tanpa kita sadari sudah berapa waktu yang kita habiskan sia-sia. Kapan kita mau membaca Al-Qur’an, kapan kita mau berbakti kepada orang tua. Oleh karenanya waktu kita hanya sedikit maka berhati-hatilah jangan sampai terpedaya.

Nikmatnya dunia tidak ada yang mengharamkan selama kita menggunakannya sesekali tetapi kalau terus menerus kita terpedaya. Umur kita hanya sedikit padahal umur kita yang sedikit inilah menentukan di alam barzakh dan kemudian masa depan kita di akhirat kelak. Kita tidak tahu berapa lama kita berada di alam barzakh menunggu waktu hari kiamat, bisa jadi lama. Nenek moyang kita ada yang sudah 1.000 tahun di alam barzakh dan bagaimana kondisinya di alam barzakh tersebut berdasarkan 60 tahun waktu kita di dunia. Sebagian orang mungkin sudah lebih lama daripada itu.

Kemudian kita di bangkitkan di padang mahsyar, kata Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎, “Di padang mahsyar yang 1 hari ukurannya seperti 50.000 tahun”. Setelah kita melewati fase alam barzakh, kita di siding, di hisab kemudian di timbang yang akhirnya masuk surga atau neraka dan itu abadi selama-lamanya. Maka mari kita berhati-hati karena hidup kita tidak banyak. Semua itu ditentukan dengan 25 tahun waktu efisien yang kita hadapi sekarang ini. Oleh karenanya pantas jika Ustman bin Affan Radhiyallahu’anhu kemudian menangis tatkala dia berada di pinggiran kuburan dia merenungkan bahwasannya inilah ujian pertama sebelum ujian-ujian lain.

Kita akan menghadapi banyak ujian makanya Allah berfirman, “Sungguh kami telah ciptakan manusia dalam kondisi susah payah”. Kita di dalam perut dengan kondisi susah payah, melahirkan juga dalam kondisi payah, menjalani kehidupan juga dalam kondisi payah, kerja dan segala macamnya dalam kondisi susah payah. Di alam barzakh juga kita merasakan kepayahan kemudian dibangkitkan juga dalam kondisi kepayahan, di padang mahsyar juga dalam kondisi payah, di sidang dalam kondisi payah, di timbang juga dalam kondisi payah/ sulit. Oleh karenanya berhati-hati dan yang pertama kita hadapi dalam kondisi kepayahan/ sulit, ujian pertama ketika nyawa kita dicabut adalah 3 pertanyaan ini yaitu siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Kemudian siapa Nabimu?

Kalau kita beriman, meyakini hal tersebut karena ketiga pertanyaan tersebut berhubungan dengan masalah akidah. Hal ini menunjukkan pentingnya seorang serius dalam mempelajari akidah. Setelah kita berilmu kemudian kita meyakini ilmu akidah dan itu akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Baik dalam perkataan, tindak-tanduknya, dalam pendengarannya, dalam penglihatannya, semua itu dipengaruhi oleh akidah yang benar yang kita ilmui dan kita yakini sehingga akhirnya terpancarkan dalam amalan kesehariannya.

Sumber: Ustadz Firanda Andirja

0

You might also like

No Comments

Leave a Reply