Bagaimanakah seorang muslim dapat menyeimbangkan antara sikap optimis berprasangka baik kepada Allah dengan ketenangan hati menerima hasil akhir ketetapan takdir? Dalam sesi tanya jawab kajian, seorang penanya mengadukan kerancuan batin yang dialaminya tatkala sedang berikhtiar memperjuangkan cita-cita kebaikan [0:00]. Di satu sisi ia berusaha mengamalkan hadits qudsi bahwa Allah selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya [0:08], serta meyakini dengan penuh harap bahwa Allah Al-Qadir Yang Maha Berkuasa menolong dan Allah Al-Fattah Yang Maha Membuka pintu kemudahan [0:24]. Namun di sisi lain, ia juga menyadari bahwa Allah Al-Alim Yang Maha Mengetahui dan Al-Hakim Yang Maha Bijaksana, sehingga lahir kekhawatiran apakah kepasrahan pada takdir akan melemahkan semangat ikhtiarnya [0:36].
Pertanyaan mendalam ini dijawab oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dengan meletakkan kaidah ganda yang wajib dipegang teguh secara bersamaan [0:53]. Beliau menjelaskan bahwa seorang hamba harus berjuang sekuat tenaga mengikhtiarkan apa yang menurut batas ilmu manusianya merupakan hal terbaik, dan pada waktu yang sama ia harus meyakini dengan sepenuh jiwa bahwa Allah subhanahu wa taala jauh lebih mengetahui apa yang hakikatnya paling membawa maslahat bagi kehidupannya [1:00]. Dua prinsip ini tidak boleh dipertentangkan, melainkan berjalan beriringan untuk menyelaraskan antara ikhtiar fisik yang maksimal dan ketundukan batin yang sempurna.
Ringkasan dalam 7 Slide
Fondasi berpikir ini bersandar kuat pada firman Allah subhanahu wa taala dalam Surat Al-Baqarah ayat 216 [1:06]. Allah menegaskan bahwa boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian, dan boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi kalian; Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui [1:18]. Ayat ini menjadi penawar dahaga bagi akal manusia yang terbatas. Sering kali manusia menganggap suatu target karier atau pencapaian duniawi sebagai hal terbaik, padahal di balik angan-angan itu tersimpan bahaya yang dapat merusak agamanya. Menyadari keterbatasan ilmu sendiri akan melahirkan ketenangan saat skenario hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Keyakinan tersebut lantas dipadukan dengan pemahaman yang benar terhadap asma dan sifat Allah yang mulia [1:25]. Tatkala Allah mengetahui apa yang hakikatnya paling membawa kebaikan bagi seorang hamba, Allah Maha Berkuasa (Al-Qadir) untuk mewujudkannya dan sekaligus berkuasa menggagalkan rencana yang tampak indah namun berakibat buruk bagi hamba tersebut [1:31]. Allah Al-Fattah akan membukakan pintu-pintu rezeki dan solusi terbaik selaras dengan keluasan ilmu-Nya, bukan mengikuti keterbatasan angan-angan manusia [1:37]. Oleh sebab itu, husnudzan sejati bukan berarti memaksakan takdir agar menuruti kemauan pribadi, melainkan meyakini bahwa pintu mana pun yang dibuka Allah adalah ketetapan paling bijaksana.
Lantas timbul pertanyaan: mengapa kita tetap dituntut untuk berikhtiar habis-habisan jika hasil akhir sepenuhnya diserahkan kepada takdir Allah? Ustadz memberikan jawaban yang membalik logika umum [1:46]. Kita mengerahkan totalitas tenaga bukan karena memastikan target kita seratus persen paling benar, sebab tidak ada dalil pasti tentang hal tersebut. Kita berikhtiar maksimal karena ingin meraih kecintaan Allah subhanahu wa taala. Allah memerintahkan dalam Surat At-Taghabun ayat 16 untuk bertakwa semaksimal kemampuan [1:50], dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Allah mencintai hamba yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan, sungguh-sungguh dan totalitas [1:55].
Ikhtiar yang totalitas merupakan bagian dari ibadah penghambaan diri, sedangkan hasil akhir adalah wilayah prerogatif kekuasaan Allah [2:13]. Setelah mengerahkan segenap daya lahiriah, jiwa seorang mukmin berlabuh pada doa istikharah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam [2:43]. Dalam doa istikharah termaktub kepasrahan yang sangat indah: jika Engkau mengetahui urusan ini baik untuk agamaku, kehidupanku, dan masa depanku di dunia maupun akhirat, maka takdirkanlah, mudahkanlah, dan berkahilah bagiku; namun jika Engkau tahu urusan ini buruk bagiku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya, lalu jadikanlah hatiku ridha terhadap ketetapan-Mu [2:54].
Sebagai penyempurna ikhtiar, syariat Islam memerintahkan musyawarah bersama orang-orang berilmu dan ahli di bidangnya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 159 [3:19]. Istikharah membangun sambungan vertikal seorang hamba dengan Sang Pencipta alam semesta, sementara musyawarah menuntaskan kewajiban ikhtiar horizontal dengan menimbang pertimbangan para ahli secara objektif. Perpaduan antara doa istikharah, musyawarah yang matang, dan kerja keras yang itqan akan menutup rapat seluruh celah penyesalan di masa depan, apa pun hasil akhir yang ditakdirkan Allah.
Kesimpulannya bertahap. Pertama, luruskan pemahaman bahwa husnudzan dan tawakal adalah pendorong semangat ikhtiar, bukan alasan untuk bersikap pasif atau malas. Kedua, kerahkan ikhtiar terbaik dengan penuh totalitas dan itqan semata-mata demi meraih kecintaan dan ridha Allah subhanahu wa taala. Ketiga, amalkan doa istikharah dan musyawarahkan setiap langkah penting bersama orang-orang yang berilmu di bidangnya. Keempat, pasrahkan hasil akhir kepada Allah Al-Alim Al-Hakim seraya menjaga hati tetap ridha terhadap pintu kebaikan yang dibukakan oleh-Nya.
-
Lihat di ShopeeMushaf Al-Qur’an Hafalan Tikrar Syaamil (A5 Terjemah Tajwid)Rp119.000
-
Lihat di ShopeeQURAN MAPPING — Menyelami Kandungan & Karakteristik SurahRp130.100
-
Lihat di ShopeeBuku Hisnul Muslim: Doa & Dzikir Shahih Al-Qur’an dan SunnahRp15.990
Tautan afiliasi: kami dapat memperoleh komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda.
Tonton kajian aslinya: tanya jawab Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc., kanal resmi Muhammad Nuzul Dzikri (@muhammadnuzuldzikri).
◉ 3 dilihat ·
