PEMBENTUK KARAKTER MUSLIMAH

crop farmer showing money in green summer field in countryside

MENJAUHI PENDAPATAN HARAM

Hadist pertama dalam bahasan pertama yaitu dari hadist Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah ﷺ melarang (memakan dari hasil mempekerjakan budak wanita atau prostitusi)”. Hadist ini tentu masyhur karena hadist ini disebutkan Imam Bukhari dalam shahihnya di jilid 4 halaman 378, Abu Daud jilid 3 halaman 710, Ahmad dalam mushafnya jilid 2 halaman 287, 438, 454, dan juga di jilid 4 halaman 341. Jadi artinya hadist ini diriwayatkan oleh banyak sekali atau beberapa Ulama Bukhari, Abu Daud dan Ahmad, tiga Ulama hadist ini kemudian Imam Ahmad menyebutkan di beberapa tempat karena keshahihannya jadi diulang dijadikan sebagai dalil di beberapa tempat.

Kemudian ada hadist selanjutnya dalam pembahasan kita sekarang ini yaitu dari Abu Mas’ud Al-Badri Radhiyallahu’anhu, dia berkata: “Bahwasannya Rasulullah ﷺ melarang memakan dari hasil jual anjing dan mahar pelacur dan juga upah dukun”. Jadi 2 buah hadist ini yang dijadikan pembahasan dan karena kita membahas tentang karakter Muslimah berarti kita sedang membahas tentang masalah ini dalam arti kata pendapatan pelacuran. Walaupun kita akan membahas secara umum tentang haramnya pendapatan yang dilarang tetapi ini umumnya kalau berhubungan dengan wanita adalah menjauhi pergaulan bebas, menjauhi perzinahan apalagi kalau sampai menjadikannya sumber bisnis sehingga sumber pendapatan dengan cara berzinah.

Saat ini kita membahas tentang pendapatan pelacuran dan juga budak-budak wanita yang diperjual-belikan untuk melakukan pezinahan lalu hasilnya diambil oleh majikannya. Dikatakan oleh Ibnu Hajah Rahimahullah yang maknanya ialah perempuan pezinah, beliau mengatakan juga penjualan transaksi anjing. Seperti yang dilakukan oleh kepala munafikin di Madinah, Ibnu Salul membeli budak-budak wanita lalu mempekerjakan mereka sebagai pezinah  kemudian dia ambil hasilnya.

Untuk sekarang banyak orang yang sengaja membuka tempat-tempat perzinahan dengan tujuan agar dia bisa mengambil pendapatan dari para pezinah-pezinah tersebut. Al-Khatabi dalam Ma’alim Sunan (nama buku) pada juz 3 halaman 103, beliau berkata: “Dahulu penduduk Mekkah dan Madinah mempunyai budak-budak perempuan yang menanggung kewajiban memberikan pajak atau bayaran. Mereka bekerja pada orang lain ada yang membuat roti, mengambil air dan melakukan pekerjaan lainnya. Kemudian mereka harus membayar upeti tersebut kepada majikan-majikan mereka. Apabila budak perempuan terjun pada pekerjaan semacam itu dan mengerahkan kemampuan mereka dalam mereka keluar rumah dan menanggung membayar kewajiban pajak majikannya maka mereka atau sebagian dari mereka tidak bisa dijamin terhindar dari perbuatan keji dan mencari nafkah dengan cara melacur.”

Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menghindarkan diri dari memakan hasil pekerjaan mereka dan ketika bentuk pekerjaan mereka ini tidak jelas maka tindakan memakan dari hasil mempekerjakan budak-budak perempuan itu telah dilarang dan lebih dibenci tentunya, ini yang dikatakan Al-Khatabi. Dalam Islam ada pengaturan hukum tentang perbudakan dan Alahmdulillah di masa kita sekarang sudah tidak ada masalah perbudakan lagi, sudah disepakati secara internasional tidak ada lagi perbudakan.

Tetapi di zaman-zaman dahulu ada perbudakan hanya saja bedanya muslim atau Islam dengan agama yang lain yaitu kalau agama yang lain budak benar-benar tidak punya nilai sama sekali, tidak dihormati, boleh dipukul, boleh disiksa, mempekerjakan semaunya, boleh disegala macam. Islam datang mengatur dan menata itu semua, perbudakan bisa terjadi karena peperangan misalnya orang berperang lalu kemudian kalah dalam peperangan sehingga akhirnya diperjua-belikan di pasar perbudakan atau bisa juga perampokan.

Makanya Islam datang memerintahkan dalam Al-Qur’an untuk membebaskan budak. Teman-teman kita muslim yang di Myanmar, mereka ditawan lalu diletakkan di penjara kemudian kalau ada muslim yang datang hendak membebaskan diminta untuk membayar orang yang akan dibebaskan. Jadi seakan-akan mereka itu diperbudakkan untuk dijual dan ada yang lebih parah lagi dari ini.

Pada zaman dahulu budak-budak yang mereka beli ada yang dipekerjakan di rumah, ada yang dipekerjakan di kebun, ada yang dibebaskan lalu dinikahi jika seorang wanita. Ada yang seperti itu terjadi dan di dalam Islam hal tersebut dibolehkan tetapi kita tetap dianjurkan membebaskan budak merupakan sebuah ibadah yang sangat besar disisi Allah سبحانه و تعالى bahkan perbudakan bisa menjadi kafarah atau penebus terhadap kesalahan-kesalahan misalnya orang berhubungan biologis pada siang hari Ramadhan untuk suami istri lalu sebagai bentuk taubatnya kepada Allah سبحانه و تعالى maka dia bebaskan budak kalau tidak ada maka dia puasa 2 bulan berturut-turut dan jikalau tidak bisa lalu dia memberikan makan 60 orang miskin.

Kalau ada orang membeli budak-budak tersebut kemudian mereka mempekerjakan sengaja menjadi pelacur atau mempekerjakan pada sumber-sumber haram maka ini hukumnya tidak boleh, Islam melarang itu. Tetapi kalau budak ini dipekerjakan di pendapatan halal kemudian dia berbagi dengan majikannya itu tidak ada masalah, hal itu dibolehkan dalam Islam. Makanya Abu Bakhar Radhiyallahu’anhu pernah punya seorang budak yang dia beli di pasar kemudian budak ini izin bekerja maka Abu Bakhar izinkan dia bekerja untuk dia hidup dan segala macam. Nah sering sekali sebagai tanda terima kasih kepada Abu Bakhar, dia membeli makanan dari hasil pekerjaannya kemudian dia makan bersama Abu Bakhar.

Sering sekali kalau dia pulang membawa makanan malam hari sebagai bentuk penghormatan Abu Bakhar kepada budak ini makan bersama dan selalu bertanya budak tersebut mendapatkan pekerjaan apa hari ini. Budak tersebut menjelaskan dan yang halal Abu Bakhar ikut makan. Suatu waktu Abu Bakhar lupa bertanya kepada budak ini langsung makan saja kemudian setelah makan baru ditanyakan Abu Bakhar, “Hari ini makanan dibeli dari pekerjaan apa?”

Dia mengatakan, “Dulu di masa Jahililyah sebelum Islam, saya pernah pura-pura jadi dukun dan saya pernah bertemu dengan seseorang yang percaya kepada saya kemudian saya menyampaikan sesuatu ternyata terjadi seperti apa yang saya sampaikan lalu orang tersebut merasa punya hutang. Sekarang dia bertemu dengan saya lalu dia membayar dan makanan inilah yang saya beli”. Maka Abu Bakhar tanpa berpikir panjang mengorek tenggorokan beliau lalu memuntahkan makanan tersebut karena mengetahui bahwasannya ini pekerjaan haram dan juga sebagaimana dalam hadist yang kedua dijelaskan, “memakan dari hasil perdukunan tidak boleh”.

Benar-benar jadi dukun saja tidak boleh apalagi hanya pura-pura jadi dukun. Hadist yang kedua dari Abu Mas’ud Al-Badri Radhiyallahu’anhu mengatakan, “Bahwasannya Nabi ﷺ melarang memakan nilai jual anjing”. Jumhur ulama sepakat kalau transaksi anjing hukumnya haram, tidak boleh ada seorang Muslim pun menjual anjing. Karena dasarnya haram untuk di konsumsi, najis dari air liurnya, begitu juga bejana yang digunakannya untuk minum. Allah سبحانه و تعالى menciptakan anjing untuk kita mengetahui bahwa ini merupakan hewan yang tidak boleh untuk dikonsumsi dan seterusnya.

Abu Hanifah Rahimahullah mengkhususkan di Bab transaksi jual beli anjing ini, ada yang boleh khusus anjing untuk berburu biasanya badannya agak ramping dan badannya ada bitnik-bintik hitamnya atau jenis anjing yang lainnya untuk berburu. Karena Allah sebutkan dalam surah Al-Ma’idah(5) ayat 4:

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَآ اُحِلَّ لَهُمْۗ قُلْ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللّٰهُ فَكُلُوْا مِمَّآ اَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Artinya:

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ”Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Abu Hanifah Rahimahullah berijtihad, beliau mengatakan khusus anjing berburu karena boleh digunakan/ dipakai maka boleh ditransaksikan tetapi tetap tidak boleh dimakan hanya untuk dipakai jasanya misalnya seorang Muslim jual anjing untuk berburu dengan tujuan juga uintuk berburu. Tetapi lebih condong dengan jumhur Ulama tidak boleh sama sekali transaksi, tidak boleh interaksi, tidak boleh dibisniskan masalah anjing ataupun hewan-hewan yang hukum dasarnya haram.

Dan cukup banyak hadist-hadist Nabi ﷺ yang menyatakan bahwasannya anjing ini kalau dipelihara tidak akan masuk malaikat ke dalam rumah, banyak hal-hal yang berefek. Bahkan Nabi ﷺ pernah mau masuk rumah lalu beliau menahan diri sejenak setelah itu masuk ke dalam rumah lalu ‘Aisyah Radhiyallahu’anha bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa anda tadi masih menahan diri di depan tidak langsung masuk ke dalam rumah?, lalu kata Nabi ﷺ, “Tadi di depan rumah ada anjing dan Jibril bersamaku tidak mau masuk sampai anjing itu pergi”. Itulah contoh maka seorang Muslim tidak perlu membuka pintu ini.

Yang kita sayangkan subhanllahu ada banyak Muslim karena pola hidupnya bukan mengikuti Islam maka yang dia pikirkan dan yang dia lakukan adalah bagaimana dia mengikuti cara-cara orang Nonmuslim sehingga memelihara anjing bahkan naudzubillah pelukan dengan anjing, tidur sama anjing, mencium anjingnya dan itu naudzubillah penuh najis. Dan ini seharusnya seorang Muslim berhati-hati, hobby memelihara hewan bukan tidak boleh jika yang dipelihara merupakan hewan yang dibolehkan dalam Islam dan anda harus patuh dengan ajaran Islam kalau seorang Muslim. Anda masih bisa punya pilihan hewan lain untuk dipelihara seperti misalnya memelihara kucing, hewan-hewan ternak, dan hewan lainnya yang dibolehkan, kenapa harus anjing?

Hal ini terjadi karena sudah terlalu mengikuti kehidupan dan pola kehidupan orang-orang Nonmuslim sehingga dianggap itu adalah sebuah prestasi atau sebuah kelebihan, tidak ada masalah maka ini semua tidak benar. Hal ini perlu digaris bawahi tentunya.

Sumber: Ustadz Khalid Basalamah

0

You might also like

No Comments

Leave a Reply