Amal apa yang paling utama? Pertanyaan itu diajukan seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan jawabannya diabadikan dalam hadits yang dibawakan di awal kajian ini [4:04]. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang amal yang paling afdal, lalu menjawab: iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika ditanya lagi kemudian apa, beliau menjawab: jihad di jalan Allah. Ditanya ketiga kalinya, beliau menjawab: haji yang mabrur. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasai.
Riwayat kedua memperkuatnya. Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu [5:06], ketika ditanya amal apa yang paling utama, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya (HR. Bukhari dan Muslim). Dua riwayat yang tampak berbeda redaksinya ini sebenarnya tidak bertentangan. Sebagaimana dijelaskan dalam kajian [8:39], beriman kepada Allah otomatis mencakup iman kepada Rasul-Nya, sebab tidak mungkin seseorang mengenal Allah kecuali melalui apa yang disampaikan Rasul shallallahu alaihi wasallam tentang nama, sifat, dan syariat-Nya.
Makna afdal sendiri diuraikan dengan rinci [7:06]. Afdal berarti paling sempurna pahalanya, paling dicintai Allah, paling memberatkan timbangan amal pada hari kiamat, paling cepat meninggikan derajat di surga, dan paling cepat membantu mengampuni dosa. Ustadz memberi contoh penerapannya dalam shalat lima waktu: seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah meninggalkan shalat fardhu bisa naik ke level berikutnya, seperti shalat di awal waktu, tidak ketinggalan takbiratul ihram imam, menambah qabliyah dan bakdiyah, hingga berdoa di antara adzan dan iqamah. Setiap amal memiliki tingkatan, dan tugas kita adalah terus menaikinya bertahap, lalu istiqamah mempertahankannya sampai wafat [8:07].
Lalu mengapa iman dijadikan amal yang paling afdal? Jawabannya tegas: karena tidak ada amal ibadah yang diterima kecuali melalui iman [9:11]. Dalam kajian diceritakan kisah seorang tokoh Quraisy yang terkenal dermawan, santun, dan ramah, bahkan memasang pengumuman di Makkah bagi siapa saja yang butuh bantuan serta menyalakan api unggun di malam hari sebagai isyarat bagi musafir. Namun ia meninggal dalam keadaan kafir. Ketika Aisyah radhiyallahu anha bertanya tentang orang itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab bahwa kebaikannya tidak berguna baginya karena ia belum pernah beriman [9:41]. Sesekali shalat yang khusyuk, sedekah yang banyak, atau puasa yang panjang sekalipun tidak ada manfaatnya selama belum beriman. Sebaliknya, orang muslim yang membaca Al-Quran mendapat sepuluh pahala per huruf, sementara orang kafir yang membukanya tidak dicatat apa-apa [10:43].
Kabar baiknya, pintu iman membuka pencatatan ke belakang. Seorang sahabat pernah bertanya tentang amal-amal besar yang ia kerjakan di masa jahiliah, seperti sedekah, membebaskan budak, dan silaturahim. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab bahwa ia masuk Islam bersama kebaikan-kebaikan tersebut [11:13]. Syaratnya satu: harus beriman. Bahkan orang yang masuk Islam diampuni seluruh dosanya, dan bila ia berasal dari ahli kitab, ia mendapat pahala ganda karena pernah beriman kepada dua risalah, misalnya risalah Nabi Isa dan risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam [11:44].
Ustadz menutup pembahasan ini dengan pengingat agar kita yang lahir dalam keadaan Islam tidak menyesal atau merasa kalah. Nilai amal ditentukan Allah berdasarkan kadar keikhlasan, dan kita pun bisa memanen pahala orang lain dengan menawarkan Islam kepada kerabat atau kolega nonmuslim, atau minimal mendoakan agar mereka mendapat hidayah [12:15]. Bila doa itu dikabulkan dan ia masuk Islam, seluruh ibadah yang ia kerjakan sesudahnya ikut mengalirkan pahala kepada kita [12:46].
Kesimpulannya bertahap. Pertama, tetapkan fondasinya: perbarui dan jaga iman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena tanpanya seluruh amal gugur. Kedua, naikkan level amal yang sudah rutin dikerjakan menuju yang lebih afdal, satu tangga dalam satu waktu. Ketiga, sebarkan kesempatan ini kepada orang di sekitar kita lewat dakwah atau doa, sebab hidayah satu orang berarti aliran pahala yang tidak berhenti.
◉ 1 dilihat ·
