Siapakah manusia yang memiliki kedudukan paling mulia dan siapa pula yang paling hina dalam timbangan Allah subhanahu wa taala? Dalam rekaman kajian Shahih At-Targhib wa At-Tarhib urutan hadits bab 1299 halaman 161, Ustadz Khalid Basalamah membacakan riwayat sahih dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang perjumpaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat [32:18]. Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar mendatangi sahabat yang sedang duduk berkumpul dalam suatu majelis, lalu beliau menawarkan kabar berharga: maukah kalian aku beritahukan tentang manusia yang paling baik kedudukannya? Para sahabat dengan antusias menjawab tentu kami mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda bahwa manusia terbaik adalah seorang laki-laki yang memegang tali kekang kudanya berjuang di jalan Allah hingga ia meninggal dunia atau terbunuh syahid [32:18].
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian melanjutkan sabdanya untuk mengabarkan urutan berikutnya [32:48]. Beliau menyebutkan golongan kedua terbaik adalah seseorang yang menyendiri di lereng perbukitan demi menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menjauhkan dirinya dari kejahatan manusia. Setelah memaparkan dua derajat kemuliaan tersebut, Nabi shallallahu alaihi wasallam memperingatkan tentang golongan yang paling buruk keadaannya di hadapan Allah. Beliau bersabda bahwa manusia yang paling jahat adalah orang yang dimintai bantuan dengan menyebut nama Allah, namun ia menolak memberi padahal ia memiliki kemampuan untuk menolongnya (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Hibban) [33:19].
Ringkasan dalam 7 Slide
Riwayat Ibnu Abbas ini memuat faedah pergaulan yang sangat luas bagi kehidupan seorang muslim [33:51]. Pelajaran pertama yang ditarik oleh ustadz adalah bolehnya kaum muslimin berkumpul untuk mengobrolkan urusan duniawi yang bersifat mubah, seperti menanyakan kabar keluarga, membahas pekerjaan, atau membicarakan hal-hal bermanfaat, selama perkumpulan itu bersih dari kemaksiatan, ghibah, dan fitnah [34:22]. Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri pernah mengingatkan para sahabat agar menghindari duduk-duduk di pinggir jalan. Namun tatkala sahabat menjelaskan kebutuhan mereka untuk berbincang, Nabi mengizinkannya dengan syarat menunaikan hak jalanan, yaitu menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar [34:54].
Faedah kedua berkaitan dengan variasi metode dakwah dan kebiasaan mengisi majelis dengan ilmu [35:57]. Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi teladan bahwa seorang pengajar atau dai tidak hanya menunggu didatangi penuntut ilmu, melainkan ada kalanya berinisiatif mendatangi komunitas masyarakat untuk menyebarkan faedah kebaikan [36:29]. Selain itu, beliau mencontohkan metode mengajar yang cerdas dengan melempar pertanyaan pemantik terlebih dahulu. Metode bertanya ini sangat efektif diterapkan oleh para orang tua di rumah atau pendidik di sekolah guna memusatkan perhatian anak sebelum menyampaikan inti nasihat agama yang penting [37:32].
Mengenai kriteria manusia terbaik, penggambaran seorang penunggang kuda yang memegang tali kekang mencerminkan kesigapan tanpa menunda waktu [38:34]. Sosok pejuang ini tidak mencari alasan untuk menunda panggilan kebajikan dan tidak berharap kembali pada kenyamanan duniawi semata. Keinginannya tertuju pada kematian mulia dalam husnul khatimah di medan juang [39:06]. Ustadz menjelaskan bahwa siapa saja yang keluar berjuang di jalan Allah lalu meninggal dunia secara wajar karena sakit atau kecelakaan, ia tetap dicatatkan pahala perjuangan hingga hari kiamat, sedangkan orang yang gugur oleh senjata musuh meraih derajat mati syahid yang agung [39:38].
Adapun golongan kedua terbaik adalah orang yang memilih uzlah atau memisahkan diri di sela-sela perbukitan [40:08]. Sikap ini bukan bentuk pelarian diri dari tanggung jawab sosial, melainkan tindakan penyelamatan akidah saat lingkungan pergaulan sudah terlampau rusak dan penuh fitnah syubhat maupun syahwat. Kendati hidup terasing dari keramaian kota, orang ini tetap konsisten mendirikan shalat secara khusyuk, menunaikan kewajiban zakat hartanya, dan menjaga lisan serta perbuatannya agar tidak mengganggu sesama manusia hingga ajal menjemputnya [40:08].
Sebaliknya, peringatan keras ditujukan kepada golongan manusia terburuk yang enggan mengulurkan tangan saat dimintai bantuan atas nama Allah [40:40]. Menolak peminta yang menyebut nama Allah padahal diri memiliki kelapangan harta merupakan tanda kerasnya hati dan keangkuhan batin yang mengabaikan keagungan nama-Nya. Ustadz Khalid Basalamah menggarisbawahi tradisi mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak pernah menolak siapa pun yang meminta pertolongan, bahkan tanpa peminta itu menyebut nama Allah sekalipun [41:10]. Kedermawanan hakiki menuntut seorang mukmin untuk melatih diri memberi sebelum diminta serta menyadari bahwa seluruh rezeki di tangannya adalah titipan milik Allah semata.
Kesimpulannya bertahap. Pertama, jadikan majelis dan obrolan harian sarana berbagi kebaikan dan bebas dari dosa lisan seperti ghibah atau celaan. Kedua, latih kesigapan diri dalam menyambut panggilan ibadah wajib tanpa menunda-nunda waktu ketaatan. Ketiga, jaga kemurnian ibadah pribadi dan hindari pergaulan yang merusak akidah serta akhlak. Keempat, jangan pernah menolak permohonan bantuan saat memiliki kelapangan, terutama ketika nama Allah yang Maha Pemurah diagungkan oleh peminta.
-
Lihat di ShopeeMushaf Al-Qur’an Hafalan Tikrar Syaamil (A5 Terjemah Tajwid)Rp119.000
-
Lihat di ShopeeQURAN MAPPING — Menyelami Kandungan & Karakteristik SurahRp130.100
-
Lihat di ShopeeBuku Hisnul Muslim: Doa & Dzikir Shahih Al-Qur’an dan SunnahRp15.990
Tautan afiliasi: kami dapat memperoleh komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda.
◉ 0 dilihat ·
