Sebelum Semuanya Terlambat: Mengejar Ilmu dan Amal Selagi Nyawa Masih Ada

Kematian datang mendadak, dan yang dibawa menghadap Allah hanya amal. Pesan itu menjadi benang merah kajian ini, dibuka dengan kisah Jabir bin Abdillah yang membeli seekor unta, menaruh perbekalannya di atasnya, lalu berjalan selama satu bulan dari Madinah ke Syam hanya untuk memastikan satu hadits langsung dari sahabat yang mendengarnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam [3:22]. Sahabat yang dituju adalah Abdullah bin Unais, sosok yang punya keutamaan tersendiri: pasca Perang Uhud, ketika kabilah-kabilah Arab Badui berani mengincar Madinah, Nabi mengutusnya seorang diri untuk melumpuhkan Khalid bin Sufyan Al-Hudzali yang memprovokasi serangan ke Madinah [5:35]. Misi satu orang itu berhasil, dan sekembalinya ke Madinah, Nabi menyambutnya dengan ucapan aflahal wajh, inilah wajah pembawa keberuntungan, lalu memberinya tongkat yang kelak menemaninya hingga ke hari kiamat dan diminta dikuburkan bersamanya [9:11].

Ketika Jabir akhirnya tiba dan dipeluk Abdullah bin Unais, kalimat pertamanya menampar: ada sebuah hadits yang belum ia dengar, dan ia khawatir engkau mati duluan atau aku mati duluan [10:47]. Seorang sahabat mulia menempuh sebulan perjalanan karena takut ajal mendahului sebelum sempat mendengar satu hadits. Ustadz menyindir jamaah dengan lembut: kajian subuh yang jaraknya cuma lima menit dari rumah pun masih ada yang datang mengantuk-ngantuk [11:17].

Ringkasan dalam 7 Slide

Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 1: Sebelum Semuanya Terlambat dengan ilustrasi line-art jam pasir klasik berornamen islami di bukit pasir fajar Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 2: Sebulan demi satu hadits dengan ilustrasi line-art tongkat kayu musafir dan gulungan perkamen hadits Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 3: Dibangkitkan tanpa membawa apa-apa dengan ilustrasi line-art timbangan amal klasik tenang diapit berkas cahaya fajar Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 4: Iman pada hari akhir menggerakkan amal dengan ilustrasi line-art lentera fajar gantung antik dan mihrab melengkung Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 5: Pesan untuk orang tua dengan ilustrasi line-art tunas pohon kurma muda berakar kuat dan pagar pelindung Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 6: Dalil hadits buhman riwayat Jabir dengan ilustrasi line-art mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal dan kubah masjid Carousel Sebelum Semuanya Terlambat slide 7: Ajakan membaca kajian lengkap di bersunah.com dengan ilustrasi line-art qalam pena kaligrafi kuningan, botol tinta dan hilal
1/7

Geser untuk melihat 7 slide

Hadits yang diburu Jabir itu berkaitan dengan hari kiamat: manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, belum dikhitan, dan buhman [11:51]. Ketika ditanya apa itu buhman, jawabannya: tidak membawa apa-apa [12:21]. Ustadz menggambarkannya dengan perumpamaan perjalanan: kita yang tahu jadwal keberangkatan saja masih membawa tas, ponsel, sepatu, dan baju [12:51]. Sementara kematian datang tanpa jadwal, pakaian dilepas dan diganti kafan, lalu dibangkitkan tanpa membawa apa-apa kecuali amal saleh [13:21]. Rumah yang dibangun, mobil yang dimiliki, rencana pengembangan usaha, bahkan anak-anak, tidak satu pun peduli pada hari itu. Allah berfirman bahwa seseorang akan lari dari saudaranya, ibu bapaknya, pasangan hidupnya, dan anak-anaknya, karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri [13:52]. Lari yang dimaksud, yafirru, adalah lari tanpa menoleh [14:24].

Ustadz lalu menyambungkan dengan motivasi beramal. Nabi sering menggandengkan iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir, dan Al-Quran pun menyatakannya, sebab yang menggerakkan manusia beramal adalah keyakinan pada hari pembalasan [16:57]. Manusia itu makhluk transaksional: buktinya, orang berbondong ke Bali karena ada fulus, dan saat pandemi ketika fulus hilang, mereka pulang kampung [17:32]. Tanpa imbalan, sulit bagi manusia untuk beramal. Maka Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalannya, bukan siapa yang paling kaya, paling bagus mobilnya, atau paling banyak anaknya [18:34].

Pesan penutup bagian ini disampaikan tegas: sebelum terlambat, persiapkan diri [15:26]. Ustadz mengenang ibunya yang sejak kecil menanamkan bahwa kebaikan kembali kepada pelakunya sendiri dan amalan akan ditimbang, lalu berpesan agar para orang tua hari ini terus menanamkan iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, dan rukun iman lainnya kepada anak-anaknya [16:26].

Kesimpulannya bertahap. Pertama, sadari bahwa ajal bisa datang sebelum ilmu sempat dituntut dan amal sempat dikerjakan, seperti kekhawatiran Jabir yang menempuh sebulan jalan demi satu hadits. Kedua, bangun motivasi dari iman kepada hari akhir, sebab tanpa keyakinan pada pembalasan, amal terasa berat. Ketiga, mulai sekarang: datangi majelis ilmu yang dekat, kerjakan amal selagi mampu, karena di hari kebangkitan tidak ada bagasi tambahan selain amal saleh.

Video ringkas: Sebelum Semuanya Terlambat: Mengejar Ilmu dan Amal

Tonton kajian aslinya: “[KAJIAN TEMATIK] Sebelum Semuanya Terlambat – Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah, MA”, kanal resmi Syafiq Riza Basalamah Official.

◉ 10 dilihat  · 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top